Lo lagi ngumpul sama temen-temen. Pesan nasi goreng, sate, sama es teh manis. “Enak banget, kayak masakan rumah,” kata lo sambil ngelap keringet.
Besoknya lo ke kafe hits di Jakarta. Pesan Hojicha latte. Rasanya nutty, smoky, creamy. Lo foto, upload story, dapet banyak likes.
Dua hari kemudian, lo liat berita: matcha mulai ditinggalin orang. Hojicha naik daun. Lo mikir, “Kok bisa? Matcha kan udah kayak budaya.”
Lo bingung. Di satu sisi, lo pengen makanan yang familiar, yang bikin nostalgia. Di sisi lain, lo nggak mau ketinggalan tren. Lo pengen nyoba hal baru, biar update, biar gaul.
Selamat datang di Dua Wajah Kuliner 2026.
Ini tahun di mana kita hidup di antara dua kutub. Di satu sisi, comfort food lagi naik daun. Orang-orang merindukan rasa yang familiar, yang bikin mereka inget masa kecil, yang bikin mereka merasa aman di tengah dunia yang kacau . Di sisi lain, tren baru kayak hojicha mulai menggeser yang lama. Matcha, yang tadinya ngetop, mulai ditinggalkan karena dianggap terlalu mainstream dan intens .
Dua wajah. Dua keinginan yang bertolak belakang. Dan kita, sebagai konsumen, ada di tengah-tengah. Kadang kita milih yang hangat dan nyaman, kadang kita ikut arus tren biar nggak ketinggalan.
Tapi pertanyaannya: di mana posisi lidah kita sebenernya? Dan yang lebih penting: apakah kita masih ingat rasa asli, atau perlahan-lahan mulai lupa?
Wajah 1: Comfort Food, Nostalgia yang Menggugah
Mari kita mulai dari yang hangat. Di 2026, comfort food lagi berjaya.
Menurut Pinterest Predicts 2026, “emotional comfort and belonging” jadi tema besar. Lebih dari setengah responden (55 persen) bilang nostalgia itu “kebutuhan” dalam hidup mereka. Mereka pengen kembali ke masa kecil yang lebih sederhana, lebih aman .
Data lainnya juga nunjukkin hal yang sama:
- 52 persen orang nonton ulang film atau acara TV klasik
- Hampir 40 persen masak atau makan makanan tradisional yang bikin mereka nyaman
- Di laporan National Restaurant Association’s 2026 Culinary Forecast, comfort food menduduki peringkat kedua tren teratas, dan global comfort foods di peringkat ketujuh
Apa yang dimaksud comfort food di 2026?
Bukan cuma makanan berat. Tapi juga:
- Smashed burgers—burger yang dipenyet, lagi viral di sosmed
- Elevated instant noodles—mie instan yang disajikan dengan cara lebih mewah
- Dubai-chocolate-flavored treats—cokelat khas Dubai yang lagi nge-hits
- Swicy (sweet and spicy)—perpaduan manis dan pedas yang lagi naik daun
Bahkan di dunia perjalanan, orang juga cari kenyamanan. Menurut Hilton’s 2026 Trends Report, hampir 80 persen traveler merasa nyaman dengan menu makanan yang familiar. Dan 77 persen seneng “grocery store tourism”—jalan-jalan ke supermarket lokal buat ngerasain keseharian dengan sentuhan lokal .
Kenapa tren ini muncul?
Jawabannya simpel: dunia lagi kacau. Inflasi, ketidakpastian ekonomi, politik panas—semua bikin orang stres. Mereka butuh pelarian. Dan makanan yang familiar, yang bikin mereka inget masa kecil, jadi pelarian yang paling mudah dan murah .
IFF, perusahaan flavor raksasa, nyebut rasa kayak cherry lagi naik karena “delivers a powerful sense of nostalgia” . Begitu juga pancake, tiramisu, dan chai spice—semuanya punya elemen keakraban yang bikin orang nyaman .
Wajah 2: Hojicha Menggeser Matcha
Nah, di sisi lain, ada tren yang justru bergerak ke arah sebaliknya. Hojicha, teh panggang dari Jepang, mulai naik daun. Matcha yang tadinya berjaya, mulai ditinggalkan .
Apa itu hojicha?
Hojicha adalah teh hijau Jepang yang dipanggang di suhu tinggi. Proses ini ngubah warna dari hijau cerah jadi coklat kemerahan dan ngasih rasa yang nutty, smoky, roasted. Kafeinnya jauh lebih rendah, bahkan aman diminum sebelum tidur .
Kenapa hojicha naik di 2026?
Matcha fatigue. Setelah bertahun-tahun matcha mendominasi—dari latte, dessert, sampai masker wajah—orang mulai capek. Matcha dianggap terlalu intens, terlalu “hiper”, terlalu mainstream .
Sementara hojicha menawarkan sesuatu yang beda: kehangatan dan ketenangan.
Menurut Technomic’s 2026 Global Foodservice Trend Predictions, hojicha muncul sebagai pelengkap matcha, offering “new flavor experiences and visuals with a greatly reduced hit of caffeine for quieter parts of the day” .
MorganMyers Food & Flavor Trends Report bahkan menobatkan hojicha sebagai “2026 Flavor of the Year” —satu-satunya flavor yang bikin lompatan besar dari tren biasa jadi fenomena .
Apa yang bikin hojicha beda dari matcha?
Hojicha bukan cuma minuman. Dia udah masuk ke berbagai produk: hojicha latte, iced hojicha, hojicha dessert, hojicha ice cream, bahkan hojicha cookies dan cokelat . Di sosmed, warnanya yang warm dan aesthetic bikin konten makin cantik.
Tapi, apakah hojicha bakal menggantikan matcha selamanya?
Mungkin nggak. Times Now bilang, ini bukan soal “matcha replacement”, tapi soal memberi pilihan. “Some days you want bright and buzzing, other days you want smooth and soothing. Hojicha offers all of that” .
Paradoks 2026: Antara Nostalgia dan FOMO
Nah, sekarang lo liat paradoksnya.
Di satu sisi, orang lagi kangen makanan nostalgia. Mereka pengen rasa yang familiar, yang bikin mereka inget masa kecil. 55 persen responden bilang nostalgia itu kebutuhan . Restoran dan brand berebut bikin menu comfort food dengan twist modern .
Di sisi lain, orang juga nggak mau ketinggalan tren. Mereka pengen nyoba hojicha, swicy, Dubai chocolate, dan segala hal baru yang lagi viral di sosmed. 43 persen konsumen global bilang mereka mencari “奇特食品饮料混搭” (food and drink combinations that are奇特) untuk pengalaman indulgent yang maksimal .
Dua keinginan ini bertolak belakang, tapi hidup berdampingan.
Orang bisa aja hari ini makan nasi goreng rumahan, besoknya minum hojicha latte di kafe hits. Nggak ada yang salah. Tapi pertanyaannya: di mana posisi lidah kita sebenernya? Apakah kita punya preferensi yang jelas, atau cuma ikut arus?
Apakah Konsumen Mulai Lupa Rasa Otentik?
Pertanyaan besarnya: di tengah gempuran tren baru, apa kita masih inget rasa asli?
Jawabannya: mungkin nggak.
Bukan karena kita bodoh, tapi karena definisi “asli” itu sendiri berubah.
Menurut IFT’s 2026 consumer outlook, konsumen sekarang lebih milih value daripada sekadar rasa enak. Value di sini bukan cuma harga murah, tapi “perceived fairness and ‘more for less’ without sacrificing relevance or experience” .
81 persen responden bilang value/affordability jadi faktor utama pembelian . Artinya, orang milih makanan bukan cuma karena rasanya, tapi karena sebanding sama duit yang dikeluarin.
ADM’s 2026 Flavor and Color Trends nambahin: konsumen pengen produk yang bikin mereka merasa “safe, in control, and joyful” . Rasa dan warna jadi alat buat koneksi emosional, bukan cuma soal keaslian.
Sementara itu, Innova Market Insights nemuin bahwa 39 persen konsumen global nyari produk yang “美味且健康” (enak dan sehat)—mereka nyebutnya “健康縱享” (healthy indulgence) . Orang pengen makanan enak tanpa rasa bersalah. Dan ini ngarah ke produk dengan protein tinggi, fiber, dan bahan alami.
Jadi, rasa asli itu apa?
Mungkin rasa asli sekarang bukan lagi soal “resep turun-temurun” atau “cara masak tradisional”. Tapi soal pengalaman yang lo dapet dari makanan itu. Apakah dia bikin lo nyaman? Apakah dia worth it sama duit lo? Apakah dia sesuai sama gaya hidup lo?
Kalo jawabannya iya, ya itu “asli” buat lo.
Studi Kasus: Dua Sisi Kuliner 2026
Studi Kasus 1: Si Rina, Comfort Food Lovers
Rina (29 tahun) kerja kantoran, stres tiap hari. Pelariannya? Makanan rumahan. “Gue tiap weekend pasti masak. Nggak perlu mewah, yang penting ada sambal, sayur asem, atau sop buntut. Rasanya kayak kembali ke rumah nenek. Itu obat stress paling ampuh.”
Dia nggak terlalu peduli sama tren. Hojicha? Udah nyoba, tapi balik lagi ke teh manis hangat buatan sendiri. “Bukan apa-apa, yang familiar itu lebih nyaman di lidah.”
Studi Kasus 2: Si Andi, Food Hunter
Andi (26 tahun) sebaliknya. Dia food hunter sejati. Tiap ada tren baru, dia pasti cobain. Hojicha latte, Dubai chocolate, swicy snack—semua masuk.
“Gue suka eksplorasi, Bang. Lidah gue pengen nyoba hal baru. Nggak harus nungguin yang itu-itu aja. Lagian, seru juga liat perkembangan rasa. Dulu matcha, sekarang hojicha. Mungkin tahun depan ada lagi yang baru.”
Dia sadar ini cuma tren, tapi nggak masalah. “Yang penting gue dapet pengalaman baru.”
Studi Kasus 3: Si Desi, Antara Dua Dunia
Desi (32 tahun) ada di tengah-tengah. Dia suka comfort food, tapi juga nggak mau ketinggalan tren. “Gue bingung kadang. Hari Minggu gue masak rendang, Seninnya gue coba hojicha latte. Rasanya kayak ada dua diri yang beda.”
Tapi setelah dipikir-pikir, Desi sadar: “Mungkin ini wajar ya. Manusia itu kompleks. Kita bisa suka dua hal yang bertolak belakang. Yang penting kita sadar kenapa kita milih itu.”
Data yang Bicara
Dari berbagai sumber, kita bisa liat gambaran lengkap:
- 55 persen responden bilang nostalgia itu “kebutuhan”
- 52 persen nonton ulang film/TV klasik
- Hampir 40 persen masak makanan tradisional yang bikin nyaman
- 80 persen traveler nyaman dengan menu familiar
- 77 persen seneng “grocery store tourism”
- 81 persen konsumen mengutamakan value/affordability
- 43 persen konsumen global nyari pengalaman flavor yang unik
- 39 persen nyari produk “enak dan sehat”
- 85 persen konsumen terbuka untuk nyoba flavor baru
- 73 persen Gen Z sering nyoba flavor baru
Common Mistakes yang Sering Dilakuin Foodies
1. Mikir “Nostalgia = Ketinggalan Zaman”
Ada yang mikir, “Ah, suka comfort food mah norak, ketinggalan jaman.” Padahal data bilang sebaliknya: comfort food lagi tren besar di 2026 .
Actionable tip: Jangan malu sama selera lo. Kalo lo suka masakan rumah, ya nikmatin. Itu nggak bikin lo kurang gaul.
2. Ngejar Tren Terus, Lupa Sama Diri Sendiri
Ada yang kebalikannya: terlalu ngejar tren sampai lupa sama preferensi sendiri. Lo beli hojicha latte padahal nggak suka, cuma biar bisa posting di IG.
Actionable tip: Coba hal baru itu boleh. Tapi kalo emang nggak cocok, ya tinggalin. Jangan maksa. Lidah lo punya hak veto.
3. Nge-judge Makanan “Nggak Otentik”
“Ini hojicha nggak otentik, beda sama yang di Jepang.” “Ini rendang modern nggak beres.” Kritik kayak gini sering muncul. Tapi pertanyaannya: apakah otentik itu harus kaku?
Actionable tip: Apresiasi inovasi. Selama rasanya enak dan ada value buat konsumen, ya kenapa nggak? Otentik nggak harus berarti “nggak boleh diubah”.
4. Lupa Bahwa Selera Itu Dinamis
Dulu lo suka matcha, sekarang beralih ke hojicha. Itu wajar. Selera manusia berubah seiring waktu dan pengalaman. Nggak perlu dipaksakan harus konsisten.
Actionable tip: Terima perubahan selera lo. Jangan ngerasa bersalah kalo sekarang lo lebih suka sesuatu yang beda dari dulu.
5. Cuma Ikut-ikutan Tanpa Mikir
Ini yang paling bahaya. Lo beli sesuatu cuma karena viral, tanpa mikir: emang ini cocok sama lidah lo? worth it nggak sama duit lo? sesuai sama kebutuhan lo nggak?
Actionable tip: Sebelum beli atau coba sesuatu, tanya diri lo: “Gue beneran mau ini, atau cuma takut ketinggalan tren?” Kalo jawabannya yang kedua, mungkin lo perlu evaluasi ulang.
Practical Tips: Gimana Cara Nikmatin Dua Wajah Kuliner 2026?
1. Kenali Dua Kebutuhan Lo
Sadari bahwa lo punya dua sisi: satu sisi pengen rasa familiar yang bikin nyaman, satu sisi lagi pengen eksplorasi hal baru. Dua-duanya valid. Yang penting lo sadar dan milih dengan sadar, bukan cuma ikut arus.
2. Jadwalkan “Comfort Day” dan “Adventure Day”
Biar nggak bingung, lo bisa jadwalin. Sabtu minggu buat comfort food—masak sendiri atau makan di tempat yang nyaman. Weekday buat eksplorasi—coba kafe baru, menu baru, tren baru.
3. Apresiasi Inovasi, Tapi Jangan Lupa Akar
Hojicha boleh naik, tapi matcha bukan musuh. Dubai chocolate boleh hits, tapi cokelat lokal juga layak diapresiasi. Nikmatin tren baru, tapi jangan lupa sama rasa-rasa tradisional yang udah menemani lo bertahun-tahun.
4. Latih Lidah, Tapi Jangan Sok Paling Tahu
Latih lidah lo dengan nyoba berbagai flavor. Tapi jangan sok paling tahu. Rasa itu subjektif. Yang enak buat lo, belum tentu enak buat orang lain. Hormati preferensi masing-masing.
5. Baca Sebelum Beli
Di era di mana banyak produk baru bermunculan, lo perlu lebih selektif. Baca review, cek bahan, bandingin harga. Jangan cuma tergoda sama foto cantik di IG.
6. Value Tetap Raja
Inget, 81 persen konsumen ngutamain value . Jadi sebelum beli, tanya: worth it nggak? Apakah ini sesuai sama duit yang lo keluarin? Apakah ada manfaat tambahan (kesehatan, pengalaman, dll)?
Kesimpulan: Antara Nostalgia dan Petualangan
Fenomena dua wajah kuliner 2026 ini ngasih kita gambaran yang menarik tentang manusia modern.
Di satu sisi, kita merindukan rasa familiar yang bikin kita inget masa kecil, yang bikin kita merasa aman di tengah dunia yang nggak pasti. Comfort food, nostalgia, dan “flavor escapism” jadi pelarian yang paling mudah dan murah .
Di sisi lain, kita juga haus petualangan. Kita pengen nyoba hal baru, biar nggak ketinggalan tren, biar bisa ikut nimbrung di obrolan. Hojicha, swicy, Dubai chocolate—semua jadi primadona baru yang siap kita cicipi .
Dua keinginan ini mungkin bertolak belakang. Tapi mereka bisa hidup berdampingan. Karena pada akhirnya, kita bukan mesin yang cuma bisa milih satu. Kita manusia—kompleks, dinamis, dan kadang kontradiktif.
Apakah kita mulai lupa rasa asli? Mungkin iya, kalo yang dimaksud “asli” adalah sesuatu yang statis dan nggak berubah. Tapi kalo “asli” adalah pengalaman yang bermakna buat kita, mungkin kita nggak pernah lupa. Kita cuma… berevolusi.
Yang penting, di tengah semua tren dan nostalgia ini, kita tetap sadar—sadar kenapa kita milih sesuatu, sadar apa yang bikin kita nyaman, sadar kapan kita perlu melangkah keluar dari zona nyaman.
Karena pada akhirnya, lidah itu cuma alat. Yang ngarahin itu otak dan hati kita. Dan selama kita masih bisa mikir dan merasakan, kita nggak akan pernah bener-benar lupa.
Jadi, lo tim comfort food atau tim tren? Atau… dua-duanya?
